Harga cabai di sejumlah pasar tradisional bergerak stabil sepanjang pekan ini setelah sempat melonjak pada awal bulan. Pedagang di beberapa kota melaporkan pasokan dari sentra produksi kembali lancar, sehingga harga cabai rawit dan cabai merah keriting turun perlahan mendekati level normal. Kondisi ini memberi kelegaan bagi rumah tangga yang belanja hariannya sempat membengkak.
Pemerintah daerah bersama tim pengendali inflasi menyebut stabilnya harga pangan berkontribusi besar terhadap terkendalinya angka inflasi. Kepala dinas perdagangan setempat, Bambang Hartono, mengatakan koordinasi antardaerah diperkuat untuk memastikan pasokan tidak terputus. Operasi pasar dan gerakan pangan murah digelar di titik-titik yang dinilai rawan kenaikan harga, terutama menjelang hari besar keagamaan.
Baca Juga: Ekspor Kopi Nasional Tumbuh, Petani Minta Kepastian Harga
Pasokan dan cuaca
Faktor cuaca masih menjadi penentu utama. Petani cabai di dataran tinggi mengaku panen kali ini lebih baik karena curah hujan tidak terlalu tinggi. Hujan berlebihan biasanya memicu penyakit tanaman dan menurunkan hasil panen, yang pada akhirnya mendorong harga naik di tingkat konsumen. Tahun ini kondisi tersebut relatif bisa dihindari.
Namun, petani tetap mengeluhkan mahalnya harga pupuk dan benih. Sutrisno, petani di lereng gunung, mengatakan biaya produksi terus meningkat sementara harga jual sering tidak sebanding. Ia berharap pemerintah menyediakan pupuk bersubsidi yang tepat sasaran agar petani tidak merugi ketika harga anjlok saat panen raya berlangsung.
Rantai distribusi yang panjang juga disorot. Selisih harga antara petani dan pengecer kerap mencapai dua kali lipat karena melewati banyak perantara. Pemerintah mendorong kemitraan langsung antara kelompok tani dan pasar modern maupun pedagang besar untuk memangkas biaya tambahan yang akhirnya dibebankan kepada konsumen.
Upaya menjaga harga
Untuk menjaga stabilitas, pemerintah menyiapkan cadangan pangan dan gudang pendingin di beberapa titik. Cabai yang mudah rusak dapat disimpan lebih lama sehingga pasokan tetap tersedia ketika produksi menurun. Investasi fasilitas penyimpanan ini dinilai penting, walaupun membutuhkan dana besar dan perawatan yang konsisten.
Ekonom dari sebuah universitas swasta, Laila Pratiwi, menilai inflasi pangan bergejolak akan selalu menjadi tantangan bila tata niaga tidak dibenahi. Menurut dia, data produksi dan stok yang akurat serta terbuka menjadi kunci agar kebijakan impor, operasi pasar, dan bantuan distribusi dapat diambil tepat waktu dan tepat jumlah.
Bagi konsumen, para pedagang menyarankan membeli sesuai kebutuhan dan tidak menimbun saat harga turun. Kebiasaan panik membeli dalam jumlah besar justru dapat memicu kelangkaan semu dan menaikkan harga. Pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan harga setiap hari dan mengumumkannya melalui papan informasi di pasar serta kanal resmi.
Di sisi pedagang, stabilnya harga membuat perputaran dagangan lebih sehat. Ibu Marni, pedagang sayur di pasar induk, mengaku pembeli kembali membeli dalam jumlah biasa setelah sebelumnya mengurangi belanja saat harga melambung. Ia berharap kondisi ini bertahan agar dagangannya tidak banyak yang membusuk dan modal harian tetap berputar.
Memasuki triwulan berikutnya, pemerintah memperkirakan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap faktor musiman dan gangguan distribusi. Kerja sama seluruh pihak, dari petani hingga konsumen, dianggap menjadi penentu apakah stabilitas harga ini dapat dipertahankan dalam jangka panjang.



