Kepolisian mengimbau masyarakat waspada terhadap modus pembobolan rekening melalui tautan palsu yang dikirim lewat pesan singkat dan aplikasi percakapan. Dalam beberapa pekan terakhir, laporan korban meningkat dengan kerugian bervariasi dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Para pelaku menyamar sebagai petugas bank, kurir paket, atau instansi pemerintah untuk memancing korban mengeklik tautan berbahaya.
Direktur reserse siber, Komisaris Besar Andika Pratama, menjelaskan bahwa tautan tersebut mengarahkan korban ke laman tiruan yang tampilannya sangat mirip layanan resmi. Korban diminta memasukkan nomor rekening, kata sandi, hingga kode sekali pakai. Begitu data diberikan, pelaku langsung menguras saldo dalam hitungan menit sebelum korban menyadari ada yang tidak beres.
Baca Juga: Kasus Pemalsuan Dokumen Tanah Dilimpahkan ke Kejaksaan
Modus yang sering dipakai
Salah satu modus yang paling banyak ditemukan adalah pesan berisi pemberitahuan paket tertahan atau tagihan yang belum dibayar. Pesan itu meminta korban membuka berkas atau tautan untuk memeriksa rincian. Ada pula pesan bertema perubahan tarif transfer yang menyebutkan korban harus menyetujui ketentuan baru agar rekeningnya tidak diblokir.
Modus lain yang kian marak adalah telepon dari orang yang mengaku petugas layanan pelanggan. Pelaku menciptakan suasana panik dengan menyebut rekening korban terlibat aktivitas mencurigakan, lalu meminta kode verifikasi yang masuk ke telepon. Padahal, petugas bank yang sebenarnya tidak akan pernah meminta kata sandi atau kode sekali pakai kepada nasabah dalam keadaan apa pun.
Seorang korban, Ibu Lestari, mengaku sempat curiga tetapi tergesa-gesa karena pesan menyebutkan tenggat waktu satu jam. Akibatnya, ia memasukkan data di laman palsu dan kehilangan tabungan. Pengalaman itu ia bagikan agar orang lain tidak mengalami hal serupa, sekaligus berharap bank meningkatkan sistem pengamanan dan respons terhadap laporan nasabah.
Langkah pencegahan
Polisi memberikan sejumlah tips sederhana. Jangan mengeklik tautan dari pengirim yang tidak dikenal, dan selalu buka layanan perbankan melalui aplikasi resmi. Aktifkan verifikasi dua langkah, gunakan kata sandi yang unik, serta batasi limit transaksi harian. Jika ragu, hubungi nomor layanan pelanggan resmi yang tertera pada kartu atau situs bank, bukan nomor dari pesan yang diterima.
Apabila sudah telanjur mengeklik atau memasukkan data, segera hubungi bank untuk memblokir rekening dan mengganti kata sandi. Simpan bukti berupa tangkapan layar pesan dan riwayat transaksi, lalu laporkan ke kepolisian. Kecepatan bertindak sangat menentukan peluang dana dapat ditahan sebelum dipindahkan ke rekening lain.
Perbankan sendiri terus memperkuat sistem deteksi transaksi mencurigakan. Transaksi dalam jumlah besar atau ke rekening baru yang tidak biasa kini dapat ditahan sementara untuk konfirmasi nasabah. Beberapa bank juga menambahkan peringatan di aplikasi ketika pengguna hendak mentransfer kepada rekening yang pernah dilaporkan terkait penipuan, meski upaya tersebut tetap membutuhkan kewaspadaan dari nasabah.
Orang tua juga diminta mendampingi anggota keluarga yang lebih tua dalam menggunakan layanan digital. Banyak korban penipuan berasal dari kelompok yang belum terbiasa dengan modus kejahatan siber. Percakapan santai di rumah tentang contoh pesan penipuan dapat menjadi perlindungan yang sederhana namun ampuh, sebelum seseorang tergoda menekan tautan berbahaya.
Kepolisian bekerja sama dengan perbankan dan penyedia layanan telekomunikasi untuk menutup nomor dan laman yang digunakan pelaku. Upaya edukasi juga diperluas ke sekolah, kampus, dan komunitas warga lanjut usia yang dinilai rentan menjadi sasaran. Masyarakat diminta ikut menyebarkan informasi ini kepada keluarga agar rantai kejahatan siber dapat diputus.



