Lewati ke konten
Iklan
Iklan header
Iklan
Iklan kiri
Iklan
Iklan kanan

Pakar Keamanan Siber Ingatkan Pentingnya Verifikasi Dua Langkah

Bagikan
Pakar Keamanan Siber Ingatkan Pentingnya Verifikasi Dua Langkah
Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi)

Pakar keamanan siber mengingatkan masyarakat agar mengaktifkan verifikasi dua langkah pada seluruh akun penting, seperti surel, media sosial, dan layanan perbankan. Imbauan ini muncul setelah meningkatnya laporan pembajakan akun yang dilakukan dengan menebak atau mencuri kata sandi. Verifikasi tambahan dinilai dapat menggagalkan sebagian besar serangan, meski penyerang sudah mengetahui kata sandi korban.

Konsultan keamanan informasi, Dimas Wicaksono, menjelaskan bahwa kata sandi saja tidak lagi cukup. Kata sandi dapat bocor melalui situs yang diretas, tertangkap oleh perangkat lunak berbahaya, atau diberikan sendiri oleh korban kepada laman palsu. Dengan verifikasi dua langkah, pelaku tetap membutuhkan kode tambahan dari perangkat milik korban sehingga akses ke akun menjadi jauh lebih sulit.

Baca Juga: Jaringan 5G Menjangkau Lebih Banyak Kota, Tarif Jadi Sorotan

Jenis verifikasi

Ada beberapa bentuk verifikasi dua langkah. Yang paling umum adalah kode yang dikirim melalui pesan singkat, tetapi metode ini dinilai kurang aman karena nomor telepon dapat dialihkan oleh pelaku. Pilihan yang lebih kuat adalah aplikasi pembuat kode yang bekerja di perangkat, atau kunci keamanan fisik yang dicolokkan ke komputer maupun telepon saat akan masuk ke akun.

Iklan
Iklan dalam artikel

Pakar juga menyarankan menggunakan pengelola kata sandi agar setiap akun memiliki kata sandi yang unik dan panjang. Kebiasaan memakai kata sandi yang sama di banyak layanan sangat berbahaya, karena kebocoran di satu situs dapat dipakai untuk membobol akun di situs lain. Pengelola kata sandi membantu menyimpan dan mengisi otomatis tanpa perlu menghafal semuanya.

Langkah lain yang tak kalah penting adalah memperbarui perangkat lunak secara berkala. Pembaruan sering memuat perbaikan celah keamanan yang dapat dimanfaatkan peretas. Pengguna diminta mengunduh aplikasi hanya dari toko resmi dan berhati-hati terhadap lampiran atau tautan yang dikirim orang tak dikenal, bahkan bila pesannya tampak mendesak atau menjanjikan hadiah menarik.

Kebiasaan aman sehari-hari

Selain langkah teknis, kebiasaan pengguna sangat berpengaruh. Jangan pernah membagikan kode verifikasi kepada siapa pun, termasuk orang yang mengaku petugas resmi. Waspadai pesan yang menciptakan rasa panik atau meminta tindakan segera. Bila ragu, tutup pesan tersebut dan buka layanan langsung melalui aplikasi atau situs resmi yang alamatnya sudah dikenal.

Organisasi dan usaha kecil juga dianjurkan menerapkan kebijakan keamanan dasar. Karyawan perlu dilatih mengenali surel penipuan, akses ke data sensitif dibatasi sesuai kebutuhan, dan cadangan data disimpan di tempat terpisah. Pencadangan yang teratur menyelamatkan bisnis dari kerugian besar bila terjadi serangan perangkat pemeras yang mengunci data penting.

Platform digital besar kini mendorong pengguna beralih ke metode masuk tanpa kata sandi yang memanfaatkan kunci sandi pada perangkat. Metode ini menggunakan sidik jari, wajah, atau kode pembuka layar untuk memverifikasi identitas, sehingga tidak ada kata sandi yang dapat dicuri melalui laman palsu. Pakar menilai pendekatan ini menjanjikan, meski adopsinya masih membutuhkan waktu dan edukasi.

Lembaga keamanan siber nasional menyediakan panduan dan layanan pengaduan bagi masyarakat yang menjadi korban peretasan. Selain memberikan langkah pemulihan, lembaga tersebut memantau pola serangan untuk mengeluarkan peringatan dini. Masyarakat didorong melaporkan setiap insiden karena data laporan membantu petugas mengenali modus baru dan menutup celah sebelum lebih banyak orang menjadi korban.

Bagi yang sudah menjadi korban, langkah pertama adalah mengganti kata sandi dari perangkat yang aman, mengeluarkan semua sesi yang masih aktif, dan memberi tahu kontak yang mungkin menerima pesan berbahaya. Laporkan kejadian ke penyedia layanan dan pihak berwenang. Semakin cepat tindakan diambil, semakin kecil kerugian yang harus ditanggung.

  • Penulis: Sari Wulandari
  • Editor: Maya Anggraini
  • Sumber: Konferensi pers
Iklan
Iklan setelah artikel

Tinggalkan komentar