Penjualan sepeda motor listrik di perkotaan meningkat dalam beberapa bulan terakhir seiring naiknya kesadaran akan biaya operasional dan dampak lingkungan. Sejumlah dealer melaporkan antrean pemesanan yang lebih panjang dibanding tahun lalu. Insentif pemerintah dan hadirnya model dengan harga lebih terjangkau turut mendorong minat masyarakat yang ingin beralih dari kendaraan berbahan bakar minyak.
Manajer sebuah dealer, Fajar Ramadhan, menyebut konsumen paling banyak berasal dari kalangan pekerja muda dan pengemudi layanan antar. Mereka menghitung penghematan biaya bahan bakar dan perawatan yang signifikan dalam jangka panjang. Menurut dia, kendaraan listrik hanya membutuhkan pengisian daya dengan biaya sebagian kecil dari harga bensin untuk jarak tempuh yang sama.
Baca Juga: Jaringan 5G Menjangkau Lebih Banyak Kota, Tarif Jadi Sorotan
Infrastruktur pengisian daya
Tantangan utama masih terletak pada ketersediaan stasiun pengisian dan penukaran baterai. Pemerintah dan perusahaan energi membangun titik-titik baru di pusat perbelanjaan, kantor, dan stasiun pengisian bahan bakar. Sistem penukaran baterai yang cepat dinilai menjadi solusi bagi pengemudi yang tidak sempat menunggu proses pengisian daya berlangsung selama berjam-jam.
Pengguna juga dapat mengisi daya di rumah menggunakan stopkontak biasa. Namun pengguna yang tinggal di apartemen atau kawasan padat kesulitan karena tidak memiliki tempat parkir dengan sambungan listrik. Pengelola gedung diimbau menyediakan fasilitas pengisian bersama, sementara pemerintah menyiapkan aturan mengenai keselamatan instalasi agar risiko korsleting dapat diminimalkan.
Seorang pengguna, Rizal, mengaku puas setelah enam bulan memakai motor listrik untuk bekerja. Suaranya lebih halus, tidak berbau, dan biaya perjalanan hariannya turun drastis. Meski begitu, ia memberi catatan bahwa jarak tempuh berkurang pada saat membawa beban berat atau melewati tanjakan, sehingga perlu merencanakan rute dan waktu pengisian dengan lebih cermat.
Baterai dan daur ulang
Baterai menjadi komponen terpenting sekaligus paling mahal. Produsen memberi garansi beberapa tahun, tetapi konsumen tetap bertanya tentang umur pakai dan biaya penggantian. Pakar teknologi energi menyarankan pengguna menghindari pengisian daya hingga penuh terus-menerus dan tidak membiarkan baterai terlalu lama dalam kondisi kosong agar kesehatannya bertahan lebih lama.
Isu daur ulang baterai bekas juga mulai dibahas serius. Bahan seperti litium dan kobalt memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berpotensi mencemari lingkungan jika dibuang sembarangan. Pemerintah mendorong produsen menyiapkan sistem penarikan baterai bekas dan fasilitas daur ulang agar rantai pasok kendaraan listrik benar-benar ramah lingkungan dari hulu sampai hilir.
Pemerintah daerah mulai memberikan kemudahan bagi kendaraan listrik, seperti pembebasan pajak tertentu dan prioritas parkir di gedung perkantoran. Kebijakan tersebut diharapkan mempercepat peralihan, terutama di kawasan yang tingkat polusi udaranya tinggi. Namun pelaku industri meminta insentif dibuat konsisten dan berjangka panjang agar konsumen dan produsen memiliki kepastian saat merencanakan pembelian maupun investasi.
Bengkel dan layanan purnajual juga menjadi perhatian. Tidak semua montir memahami sistem kelistrikan bertegangan tinggi, sehingga pelatihan khusus diperlukan. Produsen bekerja sama dengan sekolah kejuruan untuk mencetak teknisi baru. Ketersediaan suku cadang dan layanan servis yang mudah dijangkau dianggap salah satu faktor penentu kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik.
Dengan perkembangan tersebut, para analis memperkirakan pangsa pasar motor listrik akan terus naik dalam lima tahun mendatang. Keberhasilannya bergantung pada kombinasi harga yang terjangkau, infrastruktur yang memadai, dan kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk. Calon pembeli dianjurkan mencoba langsung dan membandingkan beberapa model sebelum memutuskan.



