Sebuah perusahaan rintisan lokal meluncurkan aplikasi yang memungkinkan warga memantau kualitas air sungai secara waktu nyata melalui telepon genggam. Aplikasi tersebut menampilkan data suhu, tingkat keasaman, kekeruhan, dan kandungan oksigen terlarut dari sensor murah yang dipasang di beberapa titik aliran sungai. Peluncuran dilakukan bersama pemerintah daerah dan komunitas peduli lingkungan yang selama ini aktif membersihkan sungai.
Pendiri startup, Aditya Nugraha, mengatakan gagasan itu lahir dari keresahannya melihat sungai di dekat rumah yang kerap tercemar limbah tanpa ada yang mengetahui sumbernya. Dengan sensor yang terhubung ke internet, perubahan mendadak pada kualitas air langsung terdeteksi dan memicu peringatan kepada petugas serta warga di sekitarnya. Menurut dia, data yang terbuka membuat semua pihak memiliki dasar yang sama saat berdiskusi.
Baca Juga: Jaringan 5G Menjangkau Lebih Banyak Kota, Tarif Jadi Sorotan
Cara kerja sensor
Sensor dipasang pada pelampung yang mengambang di permukaan air dan ditenagai panel surya kecil. Data dikirim setiap beberapa menit melalui jaringan berdaya rendah ke server, lalu diolah menjadi grafik yang mudah dibaca. Bila ada nilai yang melewati ambang batas, aplikasi mengirim notifikasi dan menandai lokasinya pada peta agar petugas dapat segera memeriksa sumber pencemaran.
Sensor dirancang murah dan tahan cuaca agar dapat dipasang dalam jumlah banyak. Tim pengembang memanfaatkan komponen yang mudah diperoleh dan merakit perangkat bersama mahasiswa teknik dari perguruan tinggi setempat. Kolaborasi ini menekan biaya sekaligus memberi kesempatan belajar bagi generasi muda yang tertarik pada teknologi lingkungan.
Warga juga dapat berkontribusi dengan mengirimkan laporan bergambar, seperti sampah yang menumpuk atau air yang berbau. Laporan tersebut digabungkan dengan data sensor untuk memberi gambaran lengkap tentang kondisi sungai. Sistem verifikasi sederhana diterapkan agar laporan yang tidak akurat atau bersifat iseng dapat dipilah sebelum ditindaklanjuti oleh petugas.
Manfaat bagi masyarakat
Kepala dinas lingkungan hidup, Endang Susilowati, menyambut baik inisiatif ini. Menurut dia, pemerintah daerah memiliki keterbatasan personel untuk memantau seluruh aliran sungai. Data dari aplikasi membantu petugas menentukan prioritas pemeriksaan, sehingga penindakan terhadap pembuang limbah dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran daripada mengandalkan laporan masyarakat semata.
Petani dan nelayan yang bergantung pada air sungai juga dapat memanfaatkan informasi ini. Petani dapat menunda pengairan ketika kualitas air sedang buruk, sedangkan nelayan mendapat peringatan sebelum menebar benih ikan di keramba. Informasi yang tepat waktu membantu mengurangi kerugian akibat pencemaran yang sebelumnya baru diketahui setelah ikan mati atau tanaman rusak.
Dari sisi pendanaan, perusahaan mendapat dukungan hibah dari lembaga riset dan investasi awal dari pemodal ventura lokal. Dana tersebut digunakan untuk memperbanyak sensor, memperkuat server, dan merekrut tenaga analis data. Pendiri menegaskan bahwa model bisnis tidak bertumpu pada penjualan data warga, melainkan layanan analitik bagi instansi dan perusahaan yang memerlukan laporan pemantauan lingkungan.
Komunitas peduli sungai menyatakan siap menjadi mitra di lapangan. Mereka akan merawat sensor, membersihkan alat dari lumut dan sampah, serta melaporkan kerusakan. Kolaborasi dengan warga dianggap penting agar alat bertahan lama dan dirawat dengan rasa memiliki, sebab pemantauan lingkungan hanya berguna bila dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang.
Perusahaan berencana memperluas jangkauan ke sungai-sungai lain dan menambahkan fitur prediksi berbasis data historis. Aplikasi tersedia gratis untuk warga, sedangkan layanan analitik lanjutan ditawarkan kepada pemerintah dan perusahaan yang membutuhkan pemantauan berkelanjutan. Pengembang mengajak komunitas dan sekolah untuk bergabung sebagai relawan pemantau di lingkungan masing-masing.



