Lewati ke konten
Iklan
Iklan header
Iklan
Iklan kiri
Iklan
Iklan kanan

Warga dan Aparat Bersatu Berantas Peredaran Uang Palsu

Bagikan
Warga dan Aparat Bersatu Berantas Peredaran Uang Palsu
Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi)

Aparat kepolisian bersama bank sentral dan pengurus pasar tradisional menggelar operasi terpadu untuk memberantas peredaran uang palsu. Dalam sepekan terakhir, petugas menemukan puluhan lembar uang palsu pecahan besar di beberapa pasar dan seorang pedagang mengaku menjadi korban setelah menerima pembayaran dari pembeli tak dikenal. Temuan itu mendorong sosialisasi ciri keaslian uang dilakukan lebih gencar.

Petugas bank sentral, Ratna Dewi, menjelaskan bahwa uang asli memiliki sejumlah unsur pengaman yang mudah dikenali dengan metode sederhana. Masyarakat cukup mengingat tiga langkah, yaitu dilihat, diraba, dan diterawang. Ia menegaskan bahwa uang palsu umumnya dibuat dengan teknik cetak biasa sehingga tekstur kertas dan gambar tersembunyinya tidak mampu menyerupai uang asli.

Baca Juga: Kasus Pemalsuan Dokumen Tanah Dilimpahkan ke Kejaksaan

Ciri keaslian uang

Pada uang kertas asli, tekstur cetakan tertentu terasa kasar ketika diraba, terutama pada angka nominal dan gambar utama. Bila diterawang, tampak gambar saling isi dan tanda air yang jelas. Benang pengaman terlihat sebagai garis tegas yang tertanam di dalam kertas, bukan sekadar garis cetakan. Sebaliknya, uang palsu biasanya terasa licin dan warnanya tampak pudar atau terlalu mencolok.

Iklan
Iklan dalam artikel

Pedagang pasar diimbau memeriksa uang, terutama pada malam hari dan saat pasar ramai. Para pelaku biasanya memilih waktu ketika pedagang terburu-buru melayani pembeli. Mereka juga sering membelanjakan uang palsu dalam jumlah kecil di banyak tempat agar tidak dicurigai. Karena itu, kewaspadaan pedagang menjadi garda terdepan mencegah peredarannya.

Bagi warga yang menerima uang mencurigakan, polisi menyarankan tidak membelanjakannya kembali karena perbuatan tersebut dapat dikenai pidana. Simpan uang itu, catat ciri orang yang memberikannya, dan segera serahkan ke kantor polisi atau bank terdekat. Laporan cepat memungkinkan petugas menelusuri sumber peredaran sebelum pelaku berpindah tempat.

Penelusuran jaringan

Penyidik kini menelusuri asal uang palsu tersebut. Dugaan sementara, uang dicetak di luar kota dan didistribusikan melalui perantara yang menjual dengan harga jauh di bawah nilai nominal. Polisi menggandeng bank sentral untuk memeriksa ciri cetakan sehingga dapat diketahui apakah temuan berasal dari kelompok yang sama atau berbeda.

Pengurus pasar berkomitmen menyediakan alat pemeriksa sederhana bagi pedagang dan menggelar pelatihan singkat setiap bulan. Beberapa pedagang mulai memasang tanda peringatan di lapak agar pembeli memahami bahwa setiap pembayaran akan diperiksa. Langkah kecil ini dinilai efektif mempersempit ruang gerak pelaku.

Bank sentral menegaskan bahwa penukaran uang rusak atau diragukan keasliannya dapat dilakukan secara gratis di kantor perwakilan maupun bank umum. Masyarakat tidak perlu takut datang membawa uang yang dicurigai, sebab petugas akan memeriksanya dengan alat khusus. Jika terbukti asli namun rusak, uang akan diganti sesuai ketentuan yang berlaku tanpa potongan biaya apa pun.

Warga yang ingin belajar mengenali uang asli dapat mengikuti penyuluhan gratis yang digelar bank sentral di kantor kelurahan dan pasar. Peserta diberi contoh langsung serta alat peraga sehingga mudah mempraktikkan metode dilihat, diraba, dan diterawang dalam kehidupan sehari-hari.

Kepolisian menegaskan pihaknya akan menindak tegas siapa pun yang terlibat dalam pembuatan maupun pengedaran uang palsu. Ancaman pidana penjara yang berat menanti para pelaku. Masyarakat diajak aktif melapor dan tidak takut memberi informasi, karena identitas pelapor dijamin kerahasiaannya sesuai ketentuan.

  • Penulis: Daniel Satria
  • Editor: Hendra Kusuma
  • Sumber: Konferensi pers
Iklan
Iklan setelah artikel

Tinggalkan komentar